Cerita Bersambung

Last Rare

Seperti hari-hari biasanya. Di sudut ruang yang ku ingat hanya sosok itu kala hujan gerimis kala itu. Aku masih ingat betul akan sosoknya. Dari denyut jantung berdetak aku seolah mematung dimana kala itu hanya terdiam tanpa tindak raga apa pun. Aku masih merasa bersalah sampai saat ini. Menyesal terus menjadi bayang,kenapa saat itu raga yang rapuh ini tak menjadi kuat dan entah lah apa yang di pikirkan dalam tempurung tengkorak ini. Setiap mengingat sosok dan namanya hanya membuat ilusi semu. Rin setiap kali aku eja nama itu aku selalu merinding seolah aku yang salah pada saat itu. Entah lah tak habis pikir aku di buatnya. Sebelum hari itu aku masih ingat kala itu aku selalu melihat mentari pagi seolah menyeramkan dalam menyambut hari-hari yang menurutku kurang begitu terkesan dan amat memuakkan.

Aku selalu saja terdiam dalam meratapi peliknya cobaan dari sang pencipta. Aku selalu saja bertanya dalam hati kecil “apakah karena aku enggan datang pada suraunya?” seolah tak adil saja bagiku. Kami sudah berkenalan dari lama. Namun baru kali ini jika berpapasan kami mulai tak saling menyapa. Mungkin selalu menghela nafas untuk pura-pura tak mengenalnya. Ego dalam hati seolah meronta dalam diri. Sebenarnya apa yang terjadi mungkin tak membuat banyak seseorang terdekat mengetahuinya. Rin selalu saja bilang “Fokuslah jangan pedulikan Ran” Namun seolah tak dianggap dan di acuhkan begitu saja kata-katanya. Cerita dimulai dari 7 tahun lamanya, waktu seolah-olah begitu cepat berlalu dan menyisakan sebuah cerita. Ran selalu saja ingat kala melontarkan sebuah kata kepada Rin. “Kau bermain sesuatu yang amat sangat rumit bak kata engkau telahmenyalakan bola api dan memadamkannya seolah menjadi bola salju yang semakin menggelinding semakin membesar” Ran yang saat itu hanya bersikap seolah menempatkan diri pada situasi yang tak memihak antara Rin dengan Run.

Namun namanya juga setiap langkah selalu ada resiko di baliknya. Maka konsekuensinya harus di terima baik atau buruknya. Semua hanya mereka yang bisa menghentikannya yah hanya mereka berdua yaitu Rin dan Run. Lantas siapa yang akan di korbankan juga di paksa untuk menerima kenyataan? Hanya itu yah….. Kurasa hanya itu lah yang ku tau menau soal konflik yang sekedar di permukaan yang ku amati. Namun dasarnya enggan tuk ku selami.

Gambaran keresahan

Kala Rin memutuskan untuk memutus hubungan antara Run terdengar kabar tersebut kepada Ran. Kala itu berdiam diri mungkin hanya akan menyisakan sebuah akhir yang condong mengarah terhadap sebuah pola pikir kejahatan ortodoks. Egois memang saat Rin memperlakukan Run sedemikian pula. Tak habis pikir bagi Ran kala itu membayangkan posisi Run kala itu juga.

Bersambung………………

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
close

Pemblokir iklan terdeteksi

Anda menggunakan pemblokir iklan