Cerita

Segitiga kehidupan


    Segi tiga itupun yang pantas untuk julukan kami, karena kami adalah tiga anak gadis yang terlahir dari sebuah keluarga yang penuh mimpi. Meski hidup tidak di negri impian akan tetapi mimpi dapat menjadi kenyataan. Kata-kata itu selalu sering di bicarakan oleh semua orang yang bias disebut para pemimpi. Meski menatap langit itu kami merasa itu tinggi, akan tetapi kami selalu ingin mencapai. Tak banyak yang kami cara hanya saja sesuap nasi di setiap hari. Meski miskin tapi tak membuat kami lupa akan akan sang pencipta. Kami rasa dan kami yakini pilihan kami hanyalah satu maju dan terus maju. Mundur hanyalah menjadi kata sesal yang akan teringat. Hidup selalu bermakna meski semua harus berbeda inilah hidup kami para perempuan yang mampu mengangkat derajat. Dari arah barat menghadap arah timur. Meski hal itu sulit kami selalu berusaha nan selalu bertawakal. Anak pertama sebut saja Hera serta anak kedua sebut saja Ina, kami selisih umur enam tahun dan adik kami lahir selang waktu empat belas tahun. Kami terlahir di keluarga yang bias dibilang orang tak punya ata biasa di sebut miskin.

    Kakak ku yang bernama Hera selalu semangat dalam menjalani hidup aku pun juga bersemangat sedangkan adik ku juga ikud bersemangat dalm menjalani hidup yang bias dibilang sulit ini. Di era seperti sekarang kami harus memilih deua jalur berhasil atau jalur hancur. Kesulitan hidup yang kami jalani seperti pisau yang tumpul dan harus diasah agar tajam. Untuk melalui kami di uji dengan silih berganti dengan kesulitan ekonomi serta hukum sosial yang terjadi di lingkungan kami tinggal. Karena menatap langit malam amat penuh kilauan bintang akan tetapi kami tak seterang bintang itu. Hari demi hari bulan demi bulan tahun demi tahun membawa kami ke semangat yang berkobar-kobar. Bak kata api yang membakar kami selalu pantang putus asa. Pada suatu hari masalah terjadi disaat kemampuan kami di pertaruhkan di kehidupan. Kami hanya menemui cobaan dan coban. Selalu berusaha untuk hidup biyaya ekonomi mencoba membunuh serta mencekik kami. Biyaya pendidikan pun juga menusuk kami dari belakang. Negara ini membutuhkan generasi penerus akan tetapi pendidikan semua penduduknya sekarat setengah mati menghadapi ketatnya persaingan hidup. Aku serta kedua adikku berusaha keras untuk dapat bersekolah karena biarpun miskin tapi soal ilmu kita kaya. Sebanyak apa pun uang yang dimiliki akan bias habis akan tetapi sebanya apa ilmu yang dimiliki tak akan habis. Itulah prinsip kami. Menuntut ilmu di sekolah suasta memang membuat kehidupan kami berdua semakin terbebani. Adik kecilku menuntut ilmu di sekolah dasar.

        Setrata pendidikan hal yang terpenting bagi kami semua. Ayah yang membesarkan kami serta rela membanti tulang demi keluarga ini tak pernah mengeluh atas kesulitan yang ia alami. Sedangkan ibu yang selalu merawat kami selalu menyemangati kami. Agar kelak menjadi orang yang berguna dan tak menggoreskan aib bagi keluarga. Makan seadanya sudah menjadi hal yang harus kami maklumi. Terbersit dalam hati kami serta ingatan kami pada suatu saat kami akan jaya nanti. Menghargai apa yang ada dan selalu bersyukur adalah hal yang dimana kami harus perbuat. Tak ada keluh karena jika mengeluh kemana kami harus berkeluh. Setiap hari nasi yang buram menghiasi dapur serta hari-hari kami. Lauk pauk yang tak menentu membuat kami harus sabar dengan keadaan. Esok adalah hari dimana aku menuntut ilmu di sekolah menengah. Sedangkan adik keduaku menuntut ilmu di sekolah pertama. Dimana pada saat itu kami pusing serta dibingungkan dengan biyaya tuk membayar biyaya sekolah. Beasiswa adalah hal yang kami inginkan dalam menunjang masa depan kami. Ayah yang bekerja sebagai kuli bangunan mencoba memutar otak agar mendapat uang untuk membiayai kami sekeluarga. Gaji yang pas-pasan membuat ia harus bercocok tanam karena hal itu lah yang paling gampang untuk dilakukan. Singkong adalah tanaman yang mudah untuk di tanam. Jika di jual pun harganya tak seberapa mahal. Akan tetapi kami sekeluarga menganggapnya seperti emas yang berharga bagi menyambung kehidupan kami. Pagi menjelang keberangkatan aku sekolah membuat aku meneteskan air mata akan kah kami tak malu karena kami kekurangan biyaya. Halitu yang dirasakan Hera anak tertua dari tiga bersaudari. Hal yang paling membuat malau saat aku mendapat surat tagihan pembayaran daftar ulang. Betapa terkejudnya aku melihat nominalnya. Uang sebanyak itu pasti membuat ayah kami kebingungan dalam mencari uang tambahan. Akan tetapi bagaimana jika aku berhenti sekolah saja. Keraguan Hera anak pertama semakin menjadi saat perjalanan pulang kerumah kurang dari satu kilo. Dilain sisi Ina anak kedua mendapat juga sebuah surat yang begitu mengharukan karena dia mendapatkan beasiswa karena sekolah menengah pertamanya menilai ia adalah dari keluarga tak mampu dan berkat pemerintah ia bis menuntut ilmu. Selain itu Icha adik ketiga kami juga membawa sebuah surat yang berisikan tagihan spp serta tagihan seragam. Ketika ayah membaca surat tersebut dengan ekspresi santai membaca ketiga surat tersebut seolah-olah tak terbersit wajah susah ia berkata “Biar apapun masalahnya kalian harus jadi orang pandai” katanya dengan tersenyum. Hal itu membuat semangat kami semakin berkobar-kobar. Aku merasa bahagia setidaknya beban sudah agak ringan karena ina mendapatkan beasiswa dari sekolahnya. Disisi lain aku bergumam dalam hati “aku harus dapatkan juga keringanan itu serta aku harus mampu berprestasi agar beban semua tak tersa begitu berat.” Gumam Hera dalam hati. Ina selalu mengajarkan pada Icha agar kelak ia mengerti tentang perjuangan yang sulit pasti akan terbayarkan dengan hal yang tak sepilu sekarang. Diantara kedua sodaranya Ina memiliki sifat sabar serta tenang dalam berfikir tak mudah panik. Sedangkan Hera kakak tertua memiliki sifat sabar namun ia selalu mudah bingung dalam mengambil keputusan. Icha anak terakhir memiliki sifat yang keras dan selalu berjuang dengan caranya sendiri. Ketika tiba saat hari dimana batas pembayaran berakhir aku pun kebingungan aku tak tau apa yang harus aku per buat karena uang yang belum ada membuatku bingung. Itulah yang Hera pikirkan sampai ia tak tau apa langkah selanjutnya. Pihak sekolah pun memberi surat panggilan untuk datang ke sekolah. Surat panggilan itu ditujukan kepada ayah karena kami belum melunasi uang tagihan pembayaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Related Articles

Check Also
Close
Back to top button

Adblock Detected

Anda menggunakan pemblokir iklan